Isra’ Mi’raj dan Persatuan Umat

Opini ini mengulas makna Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat persatuan umat Islam melalui pemahaman yang benar, nilai shalat, kepedulian sosial, dan kesadaran menghadapi tantangan peradaban modern.

Isra’ Mi’raj dan Persatuan Umat
Ketua HIMMI, Risnaldu, S.Si, menyampaikan pandangan reflektif tentang makna Isra’ Mi’raj sebagai momentum memperkuat persatuan umat Islam melalui pemahaman yang benar dan nilai-nilai ukhuwah.

JAGOK.CO – Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu momentum paling monumental dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar kisah perjalanan spiritual Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj membawa pesan fundamental tentang arah peradaban, kekuatan iman, dan pentingnya persatuan umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam konteks kehidupan umat Islam hari ini yang kerap dilanda perpecahan—baik karena perbedaan pandangan keagamaan, pilihan politik, kepentingan kelompok, maupun fanatisme organisasi—makna Isra’ Mi’raj menjadi sangat relevan. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kemajuan umat hanya dapat diraih melalui pemahaman yang benar, sikap saling menghargai, dan kesadaran kolektif sebagai satu umat.

Sejarah mencatat, Isra’ Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Tekanan kaum Quraisy semakin keras, perlindungan sosial melemah, dan luka batin akibat wafatnya orang-orang terdekat masih membekas. Namun justru dalam situasi inilah Allah SWT memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, meneguhkan hati Rasulullah, dan menyampaikan pesan bahwa kebangkitan tidak lahir dari konflik dan pertikaian, melainkan dari keimanan yang kokoh serta tujuan perjuangan yang jelas.

Realitas umat Islam dewasa ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan semata-mata perbedaan, melainkan ketidakmampuan mengelola perbedaan secara dewasa dan beradab. Perbedaan mazhab, pandangan fikih, strategi dakwah, hingga sikap politik sering kali berubah menjadi sumber permusuhan. Media sosial semakin memperparah keadaan dengan budaya saling mencela, menyesatkan, dan memvonis, seolah kebenaran hanya milik satu kelompok. Fenomena ini menandakan hilangnya pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi persaudaraan (ukhuwah).

Isra’ Mi’raj juga menghadirkan shalat lima waktu sebagai kewajiban utama umat Islam. Shalat bukan hanya ritual ibadah, melainkan media pembentukan karakter dan persatuan umat. Dalam shalat, umat Islam disatukan oleh satu kiblat, satu barisan, dan satu tujuan: menghadap Allah SWT. Jika shalat hanya dipahami sebatas gerakan fisik dan rutinitas formal, maka esensinya akan terhenti di permukaan. Namun jika dipahami secara benar, shalat seharusnya melahirkan akhlak mulia, disiplin, kejujuran, kepedulian sosial, serta semangat menjaga persatuan.

Lebih jauh, Isra’ Mi’raj mengingatkan umat Islam akan posisi strategis Masjidil Aqsha. Masjid suci ini bukan sekadar bangunan bersejarah atau simbol geografis, melainkan lambang persatuan umat Islam sedunia. Ketika penderitaan rakyat Palestina diabaikan, sesungguhnya umat sedang mengalami krisis empati dan kehilangan ruh persaudaraan global yang diajarkan Islam. Kepedulian terhadap Masjidil Aqsha adalah cermin kepedulian terhadap martabat umat secara keseluruhan.

Perlu ditegaskan bahwa persatuan umat tidak berarti menyeragamkan segala perbedaan. Islam sejak awal mengakui keberagaman pandangan sebagai bagian dari rahmat, selama tidak merusak persaudaraan dan tujuan bersama. Musuh terbesar umat Islam sejatinya bukan sesama Muslim, melainkan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, ketimpangan sosial, serta segala bentuk penjajahan dan penindasan yang melemahkan umat dari dalam dan luar.

Momentum peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif bagi umat Islam untuk kembali pada nilai-nilai keimanan yang mencerahkan, pemahaman yang menyejukkan, dan persatuan yang menguatkan. Umat Islam hanya dapat bangkit dan maju jika mampu membangun kesadaran bersama untuk memakmurkan bumi dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Apabila persatuan ini dapat diwujudkan, maka Isra’ Mi’raj tidak lagi sekadar diperingati sebagai peristiwa sejarah tahunan. Ia akan menjelma menjadi sumber inspirasi perubahan, melahirkan umat Islam yang kuat secara spiritual, matang secara sosial, bermartabat secara moral, dan memberi manfaat nyata bagi seluruh umat manusia.


Risnaldu, S.Si
Ketua HIMMI

Reporter: Defriyanto Meranti